NYALA HARAPAN DI JALUR KESETARAAN

NYALA HARAPAN DI JALUR KESETARAAN

Pendidikan Setara, Sederajat & Bermartabat

DIJALUR KESETARAAN

“Pak, apakah anak kami bisa sekadar mendaftar ujian dan langsung dapat ijazah?”

“Pak, kalau lulus nanti, apa anak saya sungguh bisa kuliah? Ijazahnya sah, kan, Pak?”

“Pak, tetangga bilang, lulusan kejar paket tidak akan pernah diterima di perguruan tinggi…”

Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali meluncur dari bibir para orang tua yang datang ke tempat kami. Di balik nada suara mereka yang bergetar, ada keputusasaan yang tertahan. Ada ketakutan bahwa anak-anak mereka telah kehilangan masa depan.

Sampai detik ini, stigma itu masih membayangi langkah anak-anak yang sekolah di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Seolah-olah, mereka adalah anak-anak “kelas dua” yang tak layak bermimpi.

 

Bahkan, tak jarang ada yang datang sekadar ingin membeli lembaran ijazah secara instan, seakan pendidikan kesetaraan tak memiliki ruh dan proses.

Mereka tidak tahu, atau mungkin tidak percaya, bahwa di balik dinding-dinding kelas Paket A, B C, ada anak-anak dan warga belajar yang tengah merajut asa untuk menembus gerbang perguruan tinggi dan mewujudkan mimpinya.

Mereka mungkin tak bisa masuk lewat pintu undangan Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), tetapi mereka bisa bertarung gagah berani di jalur tes SNBT. Mereka bahkan kini berdiri tegak, memiliki kesempatan mendaftar untuk mengabdi kepada negara sebagai prajurit TNI. Harapan itu nyata adanya.

Berangkat dari kegelisahan itu, kami bertekad membuktikan bahwa satuan pendidikan nonformal bukanlah sekadar tempat singgah, melainkan rumah yang setara, sederajat, dan bermartabat. Semua bermula dari sebuah langkah penuh keyakinan di tahun 2017.

MENYEMAI BENIH DI PKBM YAYASAN ANAK SHOLEH 85

Membawa kembali ruh pendidikan “Surau Minang” yang mengakar pada kearifan lokal Sumatera Barat, kami merintis Surau Al-Qur’an. Melalui program kesetaraan Paket B dan C di bawah Satuan Pendidikan PKBM Yayasan Anak Sholeh 85, kami merangkul mereka yang terpinggirkan.

Anak-anak yang melangkah masuk ke asrama. Bukanlah mereka yang terlahir dengan privilese dan mampu. Mereka adalah anak-anak dari keluarga prasejahtera, yang tak punya banyak harta, namun matanya menyala oleh tekad untuk menjadi penghafal Al-Qur’an dan mengubah nasib keluarga.

#1 Setara: Kesetaraan Akses

Setiap warga negara Indonesia berhak melihat terang dunia melalui pendidikan, tanpa peduli seberapa miskin orang tuanya, atau seberapa kelam latar belakang sosialnya.

SKB dan PKBM hadir sebagai pelukan hangat bagi mereka yang tak tertampung oleh sekolah formal, anak-anak yang putus sekolah, warga yang buta aksara, hingga mereka yang terpaksa bekerja di usia belia dan tidak sempat sekolah.

Kita harus menyadari bahwa tidak semua anak mampu mengikuti pembelajaran di sekolah formal, dan tidak semua orang tua memiliki keleluasaan finansial untuk memfasilitasi anaknya. Di sinilah pendidikan kesetaraan hadir mengisi ruang tersebut.

 

#2 Sederajat: Kesetaraan Pengakuan

Kita sering mendengar kata “sederajat”, namun belum tentu benar-benar memahami maknanya dalam kerangka sistem pendidikan di Indonesia. Hari ini, kondisinya tidak lagi seperti 5 atau 10 tahun yang lalu, di mana siswa SKB dan PKBM sering dipandang sebelah mata atau dianggap tidak layak bersaing dengan lulusan sekolah formal.

Kini, dengan bangga kita bisa menyuarakan bahwa hasil dan lulus pendidikan di SKB/PKBM diakui sejajar dengan pendidikan formal. Lulusan program Paket A, B, dan C secara hukum dan kualifikasi telah sederajat dengan siswa lulusan SD, SMP, dan SMA.

 

#3 Bermartabat: Kesetaraan Kebanggaan

 

Dahulu, lulusan program Paket mungkin merasa malu, inferior, dan rendah diri jika menyebutkan asal satuan pendidikan mereka. Saat ini, situasinya berbalik. Tidak sedikit lulusan program paket C yang berhasil melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri bergengsi, baik di dalam maupun di luar negeri, dengan deretan prestasi yang membanggakan.

 

Kita juga bisa melihat sosok inspiratif seperti Ibu Susi Pudjiastuti (Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan), Bang Atta Halilintar, dan tokoh-tokoh lainnya yang tetap mengutamakan pendidikan dasar melalui ujian kesetaraan di tengah kesuksesan karier mereka.

 

Program pendidikan di SKB dan PKBM bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menumbuhkan rasa percaya diri, melatih keterampilan, dan memberikan penghargaan kepada warga belajar agar mereka mampu hidup mandiri dan dihormati di tengah masyarakat.

Lulusan program paket harus bangga. Rasa skeptis, minder, dan inferior harus kita hilangkan sepenuhnya.

 

TATA KELOLA DAN DUKUNGAN PEMERINTAH

Selama menjalankan program kesetaraan, kami merasakan dukungan dan perhatian dari para pemangku kepentingan. Dukungan dari Dinas Pendidikan Kota Padang, khususnya dari Kepala Bidang, Kepala Seksi, dan Penilik yang sangat berarti dalam membantu kami membenahi tata kelola lembaga.

Memang, bagi sebagian pengelola PKBM, aturan tata kelola ini terkadang terkesan rumit atau menyusahkan. Namun pada hakikatnya, tata kelola yang baik adalah fondasi utama untuk menjadikan satuan pendidikan tersebut setara, sederajat, dan bermartabat.

Sembilan (9) tahun sudah perjalanan kami mengabdi. Alhamdulillah, satuan pendidikan kami kini telah memperoleh Akreditasi A (Unggul). Seluruh siswa lulusan kami bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan bagi mereka yang memilih untuk tidak kuliah, bisa langsung terserap di dunia kerja sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki dan pelajari.

 

Selain itu, dukungan konkret dari Pemerintah Kota Padang yang memberikan insentif kepada tutor dan guru di satuan pendidikan nonformal yang aktif mengajar, telah memberikan suntikan semangat yang luar biasa bagi para tutor dan pengelola PKBM di Kota Padang. Belum lagi dukungan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Mendorong penguatan PNF dan menciptkan pendidikan yang bermutu. Bahkan sekolah rumah (homeschooling) dapat dilaksanakan di SKB / PKBM.

Ini adalah bukti nyata bahwa pendidikan kesetaraan bukan lagi pendidikan “kelas dua”, melainkan pilar penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dukungan dan perhatian berbagai pihak terus kita dorong. Maju terus pendidikan Indonesia.

 

 

Bagikan :

Artikel Lainnya

NYALA HARAPAN DI JALUR KESETARAAN
NYALA HARAPAN DI JALUR KESETARAAN Pendidikan Setara, Sederajat...
BULETIN IMANI - 9 MEI 2025
BULETIN IMANI – 9 MEI 2025
BULETIN IMANI - 2 MEI 2025
BULETIN IMANI – 2 ME 2025
Sumbar Jadi Pelopor Forum Wakaf ...
Padang, 10 Desember 2024 – Sumatera Barat mencatat sejarah seb...
Belajar Adab Membaca Al-Qur'an d...
Di sebuah ruang terbuka dipinggiran pantai Pasir Jambak di ata...
Simulasi Drama : Adab Membaca Al...
Kegiatan Anak-anak RAS Pasir jambak Pekan ini tgl 18-21 Novemb...

Donasi Sekarang

“Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa, “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak’, sedangkan yang satunya lagi berdoa, “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan hartanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)